
Tergoreskan tinta di lembar kehidupan seorang gadis. Dari begitu banyak buku yang memiliki lembar kosong, terpilihlah sebuah buku yang disebut hati. Tinta itu menggores halus, awalnya, seakan goresan itu tak bermakna.
Tahun berganti, goresan tinta pun selalu berganti rupa dan selalu samar. Hingga akhirnya goresan itu semakin terlihat. Tapi tak lama, goresan itu terhenti.
Gadis itu memutuskan untuk tak ingin membiarkan buku itu tergores untuk sementara waktu. Tapi tanpa dia sadari, pena takdir sudah mulai bergerak. Menggoreskan tinta yang lebih samar daripada sebelumnya. lebih tidak terlihat, tapi tergoreskan dengan sangat pasti.
Waktu berlalu, membiarkan goresan itu berlanjut. Terkadang jelas. Terkadang samar. Perlahan tapi pasti, goresan itu memenuhi halaman demi halaman.
Dan tiba-tiba goresan itu terhenti, lagi.
Untuk waktu yang cukup lama, tinta tersebut seakan menghilang. Menyisakan halaman yang putih tak bernoda. Buku tersebut dibiarkan terbuka, tanpa adanya goresan tinta.
Lalu mulai terbentuk sebuah titik, yang sangat jelas. Berlanjut menjadi sebuah garis, dan goresan tersebut terlihat kembali. Dengan bentuk yang sama dengan goresan yang terhenti sebelumnya, hanya saja kali ini terlihat lebih jelas. Semakin lama semakin tegas.
Kemudian goresan itu berganti warna, tak lagi hitam putih, tapi penuh dengan warna lainnya. Halaman buku hati gadis itu selalu terisi dengan goresan tinta warna.
Meskipun tak jarang warna itu sendu, tapi seringkali warna tersebut cerah. Secerah perasaan gadis itu. Sesendu hatinya yang tersakiti.
Meski sempat beberapa kali terhenti, tapi bentuk goresan itu tak pernah berubah. Selalu dalam bentuk yang sama. Meskipun dengan warna yang acap kali berbeda.
Dan kini, goresan itu seolah benar-benar terhenti. Menyisakan halaman buku yang basah dan kelam. Hanya waktu yang bisa menjawab apakah goresan itu akan berlanjut dengan bentuk yang sama. Ataukah buku tersebut akan tertutup untuk selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar