Bizarre Stories

Rabu, 01 Januari 2014

Tahun Baru 2014

Jadi mbak itu...
Manis-manis sepet.

Kenapa gue bilang manisnya dua kali? bukan berarti karena banyakan enaknya daripada gak enaknya. Tapi karena gue manis (apa? gue gak boleh narsis?), dan jadi mbak itu emang ada seneng dan sedihnya.

contohnya, nih, di Tahun Baru 2014 ini. Seharian gue di rumah, ngerjain ini itu, nulis ini itu, berharap bakalan diajak tahun baruan. Eh, sampe dah 15 menit menuju tahun baru juga gak ada yang ngajak keluar sama sekali.

*jentokin kepala ke dinding*

Padahal udah nolak ajakan Tante buat ikutan pergi Akikah ponakan suaminya. Udah bela-belain stay at home nungguin ajakan buat keluar pas Tahun Baru. Hasilnya? NIHIL.

yaudah. Balik ke tulisan lagi. Tau-tau adek gue si Shia yang nge-kost di Jawa nge-whatsapp (WA), nyuruh gue nelpon. Sebagai mbak yang baik, yaudah, gue telpon, meskipun pake nomor Om karena provider gue beda sama provider dia, sedangkan proverder dia n si Om sama. Lumayan, kan, ngirit pulsa.

Apa? Gue pelit? Bukan, hanya irit!

Setelah nelpon, ngomong ngalur ngidul, gue tanyain dia dimana.
Eh, katanya dia nungguin temennya buat nonton di kost-an.
Sialan, gue sendirian di rumah gak kemana-mana, dia malah mau nginep ama temennya, rame-rame.
Rada jengkel, gue tutup dah tuh telepon.

Balik lagi ke laptop. Ngetik lagi. Online lagi. Tapi makin lama medsos makin ngebosenin, orangnya pada gak ada yg update status.
Pas baru mau buka medsos yang laen, tiba-tiba adek gue, si Ival, update status gini : Lagi di tempat X (sensor,gue gak dibayar buat iklan) sama anak-anak.
Sialan, bahkan si Ival yang baru SMA kelas 1 ngerayain tahun baru diluar... lha gue??? yang udah lulus kuliah malah dirumah cuma ditemenin laptop n medsos!!

The world is cruel, my friend. I already know that for a long time.

Selasa, 31 Desember 2013

Kembalinya Cinta di Vredenburg




            Area parkir di Malioboro tampak lengang saat beberapa bus pariwisata memasukinya. Segera, setelah bus bertuliskan “Study Tour SMA Patriot Bangsa” tersebut mengambil tempat parkir, para penumpang bus yang mayoritas baru beranjak dewasa itu  keluar dari dalam bus dan berkerumun di sekitarnya.
“Kalian harus berada di sini lagi jam satu malam. Apa semua sudah mengerti?”, pertanyaan  Pak Abu, wakil kepala sekolah SMA Patriot Bangsa, dijawab serempak oleh para siswa. Setelah memastikan bahwa semuanya mengerti dengan peraturan tersebut, beliau membubarkan kerumunan siswa dan memberikan mereka waktu bebas sampai jam satu malam.
“Kita kemana dulu, Cil?”, tanya seorang gadis bernama Mei kepada temannya.
“Ke toilet dulu, yuk. Aku udah kebelet dari tadi.”, jawab Sheila, yang biasanya dipanggil Cila oleh Mei. Sebelum Mei sempat mengiyakan ajakannya, Sheila sudah ngacir duluan ke toilet umum yang ada di pojok tempat parkir.

Mei bersandar di dinding luar toilet, menunggu sahabatnya keluar. Toilet umum itu tampak penuh dengan siswa sekolah mereka. Wajar saja, perjalanan yang panjang membuat Mei dan teman-teman satu sekolahnya harus bersabar menunggu pemberhentian selanjutnya setiap kali ingin ke kamar kecil. Mei mulai tidak sabar ketika Sheila datang dengan wajah sumringah.
“Hehe, lama ya?”, tanya Sheila.
Mei manyun. Dia mengangkat tasnya dan mengarahkannya ke Sheila. Sheila yang berpikir Mei akan melempar tas itu ke arahnya memasang pose bertahan. Tapi dugaannya salah. Mei meletakkan tas itu di tangan Sheila.
“Gantian.”
***
            Malioboro memang tempat yang pas untuk belanja. Apalagi bagi para anak sekolah yang sedang study tour dan jarang menemukan tempat dengan banyak pilihan barang dan harga seperti ini di kota asal mereka. Sheila dan Mei juga tidak terkecuali. Hampir semua toko emperan di sekitar tempat bus sekolah mereka parkir sudah mereka masuki.
            “Mau cari apalagi, Cil?”, tanya Mei sembari memasukkan belanjaannya ke dalam tas. Sheila melihat-lihat sekeliling mereka dan tatapannya terkunci ke penjual aksesoris yang berada di seberang tempat mereka berdiri saat ini.
            “Yuk, ke sana.”, Sheila menunjuk ke arah toko yang banyak menjual aksesoris etnik tersebut. Mei ragu, tapi dia menurut saja saat Sheila menarik dirinya menyebrangi jalanan Jogja.
            Tempat yang dimaksud Sheila memang tidak terlalu menarik jika diperhatikan sekilas. Tapi jika diperhatikan secara seksama, semua aksesoris yang dijual memiliki daya tarik tersendiri. Mei yang semula ogah-ogahan sekarang sangat antusias memilih beberapa gelang yang ada di hadapannya.
            Sheila masih mencari-cari. Deretan kalung dari berbagai macam bahan berhasil membuatnya bingung untuk menentukan pilihan. Tiba-tiba matanya tertuju ke bagian paling belakang. Kalung dari manik-manik dengan liontin putih berisi pasir dan kerang. Unik. Kesukaannya. Sheila langsung meminta izin si penjual untuk membongkar susunan kalung tersebut. Dengan satu anggukan dari si penjual, Sheila mulai mencabut satu persatu kalung dari rak dan meletakkannya di susunan aksesoris lain yang tidak terlalu penuh. Tangan Sheila baru saja akan mengambil kalung yang dia incar ketika ada tangan lain yang mengambilnya.
            “Eh, dia duluan.”, kata seorang cowok yang berada di pintu masuk toko.
            “Enak aja. Gak liat apa dari tadi temenku bongkarin rak cuma buat ngambil tuh kalung?”, sewot Mei.
            Sheila terpaku pada tangan itu lalu menoleh untuk melihat si pemilik tangan.
            “Sheila?”, tanya cowok yang hendak mengambil kalung incarannya itu.
            Sheila mengerjap. Sekali. Dua kali. Berusaha memastikan ingatannya.
            “Ehm... Tio?”, kata Sheila tidak yakin. Cowok bernama Tio itu tersenyum simpul dan menyerahkan kalung incaran Sheila ke si penjual. Mei semula hendak sewot melihat Tio membeli kalung tersebut. Tapi kemarahannya berubah menjadi rasa heran ketika bungkusan itu disodorkan Tio ke Sheila yang mematung.
            “Seleramu gak berubah.”, kata Tio. Tangannya mengacak-acak rambut Sheila sebelum akhirnya dia keluar bersama temannya.
            “Wah, mas nya baik ya mbak. Sampe ngebeliin kalung segala.”, ujar si pemilik toko.
            Sheila hanya tersenyum kecut.

            Sepanjang jalan kembali mereka ke bus. Mei benar-benar dibuat kalap mata. Berkali-kali Sheila harus menarik sahabatnya itu menjauh hanya karena Mei selalu tertarik dengan barang-barang yang unik dan murah.
            “Ayolah, Mei, belanjaan kita udah banyak.”, bujuk Sheila, memperlihatkan kantung-kantung plastik yang ada di tangannya. Tapi Mei memang susah diajak kompomi kalau menyangkut belanja. Jadi Sheila hanya bisa pasrah diajak Mei berkeliling.
            Akhirnya mereka beristirahat sejenak di warung bandrek yang tak jauh dari tempat parkir bus sekolah. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore dan mereka mulai menjelajah area belanja jam setengah dua siang. Berarti sudah empat jam mereka berkeliling daerah Malioboro. Pantas saja kaki mereka serasa mau lepas.
            Sembari menunggu teh manis hangat dan pisang goreng keju. Mei dan Sheila memutuskan untuk melihat-lihat hasil berburu mereka selama empat jam tadi.
            “Lihat, nih. Tadi aku berhasil nawar sampe lebih dari setengah harga, Cil. Hebat, kan?”, seru Mei memperlihatkan tas batik berwarna biru tersebut.
            Sheila yang tadinya antusias dengan hasil buruan mereka tiba-tiba terdiam saat mengambil sesuatu dari tasnya. Pandangannya terpaku pada bungkusan kecil yang kini ada di tangannya. Mei melirik sekilas dan menghela napas.
            “Jadi...”, gadis berambut panjang itu berusaha memulai percakapan,”...siapa, sih, si Tio ini? Kok rasanya aku belum pernah tahu.”
            “Inget cowok yang bakalan aku kenalin waktu kamu pulang dari Padang?”
            Mei mengangguk, “Mungkin tepatnya ‘yang gak jadi kamu kenalin’ ”.
            Sheila tersenyum geli, lalu matanya kembali milhat ke arah kalung yang berada dalam bungkusan itu. “Itu Tio.”
            Mei melemparkan tatapan ‘oh, sekarang aku mengerti’ kepada Sheila. Sahabatnya itu menutup bungkusan kalung dan mengaduk teh manis hangatnya yang baru saja diantarkan pelayan.
            “Tio itu teman sepupuku. Mereka sekolah di SMA Kusuma. Kami kenalan waktu dia nganter sepupuku ke rumah untuk ngambil titipan dari Mama. Anaknya asik, meskipun kadang pendiem. Mungkin dia termasuk orang yang gampang dekat sama semua orang. Kami juga langsung dekat walaupun baru ketemu satu kali. Sepupuku yang iseng itu ngasih nomor hapeku ke Tio. Jadi kami mulai sms-an. Itu semua terjadi waktu kamu lagi ke Padang, Mei. Aku gak bisa cerita karena kamu sendiri yang sms kalau handphonemu ketinggalan di rumah.”
            Mei manyun dan memutar bola matanya ketika mendengar kalimat terakhir Sheila. Saat itu dia memang apes, handphonenya tertinggal dan dia hanya bisa berhubungan dengan Sheila lewat handphone Mamanya. Tentu saja dia segan untuk meminjam terus, jadi dia putuskan untuk memberitahu Sheila agar tidak menghubunginya sementara waktu. “Terus, apa yang terjadi selanjutnya?”
            “Kami janjian. Pergi bareng satu, dua kali. Dan dalam satu minggu, waktu nganter aku pulang dari sekolah, dia bilang kalau dia suka sama aku.”
            “Okee...dia nembak. Sejauh ini biasa-biasa aja. Tapi kalau kamu gak ngenalin dia ke aku, berarti ada masalah, kan?”
            Sheila mengatupkan mulutnya.
            Denting sendok yang beradu di dalam cangkir selama Sheila mengaduk-aduk teh manis itu menjadi satu-satunya suara yang terdengar di antara mereka.
***
            “Cewek tadi siapa, Yo?”, suara Fahri memecah lamunan Tio. Saat ini mereka sedang beristirahat di dalam bus sekolah.
            “Sheila. Kan tadi aku udah nyebutin namanya.”, jawab Tio sekenanya.
            “Maksudku.. cewek itu siapa kamu..”, Fahri mulai tidak sabar.
            Tio terdiam. Siapa Sheila baginya? Pacar? Jadian aja belum pernah. Tapi kalau dia sudah bilang suka, apa itu termasuk jadian meskipun Sheila belum membalas perasaannya? Atau status mereka sekarang ini mantan? Tapi kapan mereka putus?
            Tio mengacak-acak rambutnya sendiri. Persoalan ini sudah membuatnya bingung selama dua bulan. Sejak Tio menyatakan perasaannya ke Sheila, cewek itu seolah hilang ditelan bumi. Tidak ada kabar sama sekali. Pernah suatu waktu Tio mengantarkan Yoga, sepupu Sheila, ke rumah cewek itu. Tapi yang Tio lihat sewaktu bertemu dengan Sheila adalah tatapan benci dari gadis itu. Jauh berbeda dengan tatapannya ketika Tio menyatakan perasaan kepadanya. Apa yang sudah ia perbuat sampai Sheila menjadi benci kepadanya?
            “Halooo.. Tio?”, Fahri melambaikan tangannya di depan mata Tio.
            “Eh? Apaan?”
            “Cewek itu siapa kamu?”
            “Kenalan.”, jawab Tio pada akhirnya. Dia tidak tahu harus menjawab apalagi.
            “Orang Jogja?”
            “Bukan, dia anak SMA Patriot Bangsa. Sama-sama dari Palembang juga. Kalau nggak salah, sih, sekolahnya juga lagi study tour, tapi aku nggak tahu kalau mereka juga ke sini.”
            “Ohh.. udah punya pacar belum?”
            “Mau apa kamu tanya-tanya?”
            “Yaa, gak apa, kan. Hanya bertanya. Siapa tahu jodoh.”, iseng Fahri. Perkataan Fahri membuat Tio menyundul kepala cowok itu dengan tangan.
***
            Teh manis dan pisang goreng keju berhasil membuat dua sekawan, Mei dan Sheila, kembali bersemangat. Seolah semua lelah dan pegal itu hilang dengan hal-hal manis yang baru saja masuk ke perut mereka. Dan yang paling membuat Mei lega adalah makanan tersebut mampu mengembalikan senyum Sheila. Sahabatnya itu terlihat murung ketika menceritakan kisahnya dengan Tio. Dalam hati, Mei mengutuk cowok sialan itu karena ia menganggap Tio sudah mempermainkan perasaan Sheila.
            Bus SMA Patriot Bangsa sudah mulai terlihat dari kejauhan. Sheila dan Mei memutuskan untuk berjalan lebih cepat. Mereka ingin segera menaruh belanjaan mereka yang dirasa sudah terlalu banyak.
            Sesampainya di dalam bus, ada beberapa siswi yang mengobrol dengan riuh. Dari yang Mei curi dengar, mereka bertemu dengan beberapa siswa dari SMA Kusuma. Tunggu dulu,  itu kan SMA-nya Tio?
            “Eh, Sheila, Mei, ikutan yuk. Kami habis ini mau ke alun-alun, tadi ketemu sama cowok-cowok SMA Kusuma, terus janjian ke sana bareng. Ikutan, yah, biar rame.”, celetuk Nana, teman sekelas Sheila dan Mei.
            Mei menoleh ke Sheila, meminta jawaban dari ajakan Nana. Sheila bingung, di satu sisi, ia ingin sekali pergi ke alun-alun karena dia belum pernah merayakan tahun baru di luar Palembang apalagi biasanya akan ada pertunjukan kembang api. Tapi di sisi lain, akan ada kemungkinan dia bertemu dengan Tio, dan saat ini orang yang paling ia hindari adalah Tio.
            Tunggu dulu, kenapa ia harus menghindar?
            “Oke...”, jawab Sheila,”kami ikut.”.
            Nana dan teman-temannya bersorak kegirangan. Mereka mulai membicarakan apa saja yang mungkin terjadi saat perayaan tahun baru di alun-alun. Mei hanya dapat memandang Sheila dengan perasaan tidak enak.
            “Kenapa?”, tanya Sheila, menyadari tatapan Mei kepadanya.
            “Kamu nggak apa-apa?”
            “Cuma sedikit haus.”, Sheila membuka botol minuman dan meneguk isinya. Entah kenapa ia merasa sangat haus. Mungkin karena minyak dari pisang goreng tadi? Atau dia terlalu banyak makan yang manis-manis hari ini?
            “Habis maghrib kita berangkat, ya.”, seru Nana.
            Mei hanya tersenyum sedangkan Sheila melambaikan tangan tanda setuju. Ia masih sibuk dengan botol air mineral di tangannya.

            Jam di tangan Sheila menunjukkan pukul tujuh malam. Ia, Mei dan rombongan Nana memutuskan untuk segera berangkat karena jarak antara tempat mereka parkir dan alun-alun cukup jauh. Sebelum menemukan alat transportasi, mereka sepakat untuk berjalan kaki terlebih dahulu.
            Jalanan kota sudah mulai padat. Sheila dan teman-temannya mulai kesulitan untuk berjalan. Dan tanpa disadari, mereka terpisah. Beruntung bagi Sheila, Mei selalu ada di belakangnya sehingga dia tidak terpisah sendirian.
            “Mana Nana?”, tanya Sheila.
            “Bukannya tadi masih di depan kita?”
            Mereka menoleh ke sekeliling. Tidak ada tanda-tanda Nana ataupun rombongan cewek yang lainnya. Sheila memutuskan menelepon Nana.
            “Nana? Kamu dimana?”, tanya Sheila ketika Nana mengangkat telepon darinya.
            “Nggak tahu ini dimana, tapi kami dah jauh kayaknya dari tempat parkiran.”
            Sheila semakin bingung. Dia tidak mengenal siapa-siapa di sini kecuali Mei. Dan lebih parahnya lagi, mereka tidak tahu jalan kecuali jalan pulang kembali ke parkiran bus.
            “Ya udah, deh. Aku sama Mei balik aja, gak apa kan?”
            “Yaah, kami jadi gak enak, nih.”
            “Santai, bukan salah kalian kok kalau kita kepisah di tengah jalan. Have fun, ya.”, Sheila mengakhiri teleponnya.
            “Gimana?”, tanya Mei.
            “Kayaknya mereka udah jauh. Kita balik aja, yuk.”, ajak Sheila.
            “Tanggung, ah. Kita ke situ aja, yuk. Kayaknya rame juga di situ. Jarang-jarang, kan, bisa keluar pas malam tahun baru. Di Jogja, lagi.”, bujuk Mei.
            Sheila menghela napas. Sekali lagi dia terbujuk rayuan Mei. Dengan muka manyun, dia mengikuti Mei yang menariknya dengan girang. Sesampainya di sana, Mei langsung meninggalkan Sheila untuk membeli wedang jahe.
            “Benteng fure..fureden...”, Sheila berusaha membaca nama tempat mereka berada sekarang.
            “Benteng Vredenburg.”, seru seorang cowok. Suara itu berasal dari belakang Sheila. Spontan, Sheila menoleh.
            “Hei, ketemu lagi.”, sapa cowok yang tak lain adalah Fahri.
            “Eee.. kamu siapa, ya?”, tanya Sheila. Dia hanya ingat kalau cowok yang berada dihadapannya ini adalah cowok yang tadi juga berada di toko aksesoris bersama Tio.
            “Kenalin, aku Fahri, temennya Tio.”, Fahri menyodorkan tangannya.
            “Mei.”, tiba-tiba Mei menyambut tangan Fahri. Sheila hanya terkekeh pelan melihat kelakuan sahabatnya yang bisa dibilang sangat protect terhadapnya. Fahri Cuma bisa bengong karena tingkah Mei. Tiba-tiba terdengar tawa lain di belakang Fahri.
            “Hahaha.. rasain, lo. Makanya jangan suka SKSD.”, Tio berusaha menahan tawanya yang meledak.
            Fahri dan Mei akhirnya selesai ‘bersalaman’. Mei menyodorkan wedang yang dia beli kepada Sheila. Mulutnya seolah berkata ‘jangan dihabisin’. Sheila menerima wedang itu dengan senyum penuh arti. Menit-menit berikutnya berlalu dalam diam.
            “Jadi, sampai kapan kalian di Jogja?”, tanya Tio, mencoba mencairkan suasana.
            “Jam satu malam nanti kami sudah harus berangkat lagi.”, jawab Mei.
            “Kemana?”
            “Wah, kayaknya di sana ada makanan enak, deh. Kesitu, yuk, Cil.”, Mei mengalihkan pembicaraan dan menarik Sheila bersamanya.
            Tio menghela napas. Sheila sama sekali tidak ingin bicara dengannya. Dengan lesu ia menundukkan kepala.
            Tak suka melihat keadaan temannnya seperti itu, Fahri mengajak Tio untuk mengikuti mereka.
            “Buat apa?”, tanya Tio.
            “Udah. Gak usah banyak tanya. Ikutin aja.”, jawab Fahri.
            Tio menurut dengan enggan. Dua cowok itu berjalan di belakang Sheila dan Mei, mengikuti kemana mereka pergi dan tak jarang mereka berempat terlibat obrolan yang cukup menarik.
            “Cil, kesana, yuk. Ada kembang gula.”, seru Mei.
            “Duh, di sini aja, deh, Mei. Aku capek.”, tolak Sheila.
            “Ya udah, sini, sama aku aja.”, Fahri menarik tangan Mei dan langsung diprotes oleh cewek hitam manis itu. Tapi Fahri hanya cuek dan tetap menarik Mei menjauhi Sheila dan Tio.
            “Dia sengaja, ya?”, tanya Sheila. Tio terkekeh.
            “Gimana kabar kamu, Sheil?”, tanya Tio.
            “Ya, gini.”, Sheila mengangkat tangan tidak peduli. Dia tidak ingin mengingat apapun tentang cowok bernama Tio yang sekarang ada di sampingnya. Cewek itu melihat sekeliling sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk di salah satu batu di dekatnya.
            Tio menghela napas. Apa yang sudah ia lakukan hingga Sheila bersikap begini terhadapnya? Ia mendekat. Ikut duduk di salah satu batu yang terletak di tempat yang menyerupai tempat parkir tersebut.
            Sheila melihat jam tangannya, sudah jam setengah sebelas. Lama juga Mei pergi. Ia mulai risih berada hanya berdua dengan Tio di tempat yang tidak dikenalnya ini.
            “Sheil?”, Tio kembali buka suara.
            Sheila hanya diam. Terpaku melihat jalanan yang mulai penuh.
            “Boleh aku tahu, kenapa kamu diemin aku?”
            Sheila menoleh, lalu tersenyum kecut. Merasa tidak mendapat jawaban apapun, Tio melanjutkan pertanyaannya.
            “Kenapa kamu nggak ngasih penjelasan apapun? Aku salah apa, sih?”
            “Salah apa?”, Sheila akhirnya menjawab,”apa kamu benar-benar nggak merasa bersalah sampai-sampai bertanya apa salah kamu?”
            “Oke, aku bingung sekarang.”
            “Apa ngeduain cewek itu bukan kesalahan, Tio?”
            Tio terdiam. Ngeduain? Apa maksud Sheila?
            “Bentar, siapa yang ngeduain dan siapa yang diduain di sini?”, tanya Tio tidak mengerti.
            Sheila kaget. Sepintar inikah Tio berakting?
            “Kamu bilang suka sama aku disaat kamu udah punya pacar. Apa itu bukan ngeduain?”, Sheila mulai emosi.
            “Aku? Punya pacar? Sheila, kamu dibohongin sama siapa? Yoga?”, tanya Tio, bingung.
            “Gak ada hubungannya sama Yoga. Sehari setelah kamu nembak, aku nelpon ke hape kamu dan yang ngangkat cewek. Aku pikir itu salah sambung. Aku sampai nelpon tiga kali dan terakhir saat aku mastiin itu telpon kamu atau bukan, cewek itu bilang iya. Aku tanya dia siapa, dan dia bilang kalau dia itu Vira, pacar kamu.
            Kamu anggep aku apa, Yo? Mentang-mentang kita nggak satu sekolah, kamu mau ngeduain cewek kamu gitu aja.”
            Tio terperangah. Vira? Vira yang mana? Vira...
            Astaga!
            “Sheil, aku emang punya teman sekelas yang namanya Elvira. Tapi dia bukan pacar aku. Dia emang suka ngaku-ngaku jadi pacar setiap cowok yang dekat sama dia.  Setiap cowok jomblo di kelas pasti digituin sama dia. Kami cuma temen biasa. Gak lebih.”
            “Kalau kamu memang nggak punya hubungan apa-apa. Kenapa kamu gak ngejelasin semua dari awal? Kamu pasti tahu kan kalau aku nelpon saat itu. Kamu bisa lihat di list penelpon di hapemu.”
            Sial, pikir Tio. Saat itu memang dia merasa ada yang aneh dengan list penelponnya yang kosong. Teman-temannya pasti sudah menghapus list tersebut. Tapi kalau dia mengatakan yang sebenarnya, apakah Sheila akan percaya?
            “Sheil...”, ucap Tio lemah. Apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan kembali kepercayaan Sheila?
            “Cieeee, Tio. Lagi study tour malah ngedeketin cewek.”, seru seseorang dari belakang Tio.
            Tio menoleh. Ini dia biang keladinya. Tio langsung menarik cewek itu ke hadapan Sheila.
            “Oke, Vira, ini Sheila. Sheila kenalin, ini Vira.”
            Kedua cewek itu sama-sama bingung dengan situasi mereka saat ini.
            “Cewek kamu, Yo?”, tanya Vira.
            “Ini Sheila, Vir. Sheila. Apa kamu nggak inget apapun soal nama itu?”
            Vira memasang raut wajah bingung, namun kemudian matanya membelalak.
            “Sheila? Sheila sepupunya Yoga? Yang jadi gebetan kamu? Yang waktu itu... waktu itu...”, Vira tidak bisa meneruskan kalimatnya.
            Sheila hanya bisa menatap Tio dan Vira bergantian. Gerak gerik Vira menunjukkan bahwa dia merasa tidak enak dengan keadaan ini.
            “Nih, dia yang waktu itu ngangkat telpon kamu dan ngaku-ngaku jadi pacar aku.”, jelas Tio, “Emangnya kapan kita pacaran, Vir?”
            “Nggak pernah.”, aku Vira. Lirih.
            “Terus, kenapa waktu itu...”, Sheila bingung, tidak bisa meneruskan kata-katanya.
            “Semuanya cuma salah paham, Sheil. Dia cuma temen aku, nggak lebih. Tapi aku ngerti kalau kamu mau marah karena ngerasa aku ngebohongin kamu.”
Vira mulai mengerti keadaan sekarang. “Ehm.. Sheila. Aku mau minta maaf. Waktu itu aku asal ngaku jadi pacarnya Tio. Aku baru tahu Tio udah nembak kamu waktu yang lain ngegodain Tio. Karena ngerasa bersalah, aku hapus semua list telepon di hapenya Tio. Maaf, ya. Tio nggak salah, kok. Bener. Itu murni cuma aku yang iseng.”
            Sheila diam. Instingnya berkata bahwa Vira sungguh-sungguh minta maaf.
            Dari jauh terdengar suara segerombolan orang memanggil Vira. Tampaknya itu siswa SMA Kusuma yang lain.
            “Ehm, aku dipanggil, nih. Aku duluan, ya. Tapi, kamu dah maafin aku, kan, Sheila?”, tanya Vira.
            Sheila tersenyum kecut. Ia mengangguk lemah. Melihat hal itu, Vira menghela napas lega dan berlari menuju rombongannya setelah berpamitan dengan Tio dan Sheila.
            Sheila merasa lemas. Dia sudah menuduh Tio, menjauhinya, berpikiran buruk tentangnya, dan semua itu hanyalah salah paham. Seandainya ia tahu lebih cepat.
            “Jadi...?”, suara Tio mengagetkan Sheila. Dia benar-benar lupa kalau cowok itu masih di sini.
            “Apa?”, tanya Sheila balik.
            “Apa semua sudah jelas?”
            Oh Tuhan... Kenapa Mei lama sekali? Ia benar-benar membutuhkan tameng saat ini.
            “Sheila?”
            Cewek berambut pendek itu hanya diam. Kesabaran Tio habis. Ia meraih pundak Sheila. Membuat cewek itu berdiri menghadap ke arahnya. Tio menunduk, menatap Sheila.
            “Kamu masih marah sama aku?”
            Sheila menggeleng. Pelan. Hatinya mengutuk Mei yang membiarkannya berada dalam situasi memalukan seperti ini.
            “Apa masih ada kesempatan buat aku?”
            Sheila mengangguk. Ragu. Melihat hal ini, sisi iseng Tio muncul.
            “Apa kamu suka sama aku?”
            Sheila terbelalak kaget. Ditepisnya tangan Tio dari pundaknya. “Pertanyaan apa itu?”, serunya. Ia mulai merasakan darah mengalir ke pipinya.
            “Anggap itu balasan karena sudah menjauhiku tanpa sebab selama dua bulan ini.”, kekeh Tio, melipat tangannya di depan dada.
            “Ya.”, kata Sheila, lirih.
            “Apa?”, pancing Tio.
            “Iya!”, teriak Sheila.
            “ Kata ‘iya’ tidak menyatakan bahwa kamu suka sama aku.”, keisengan Tio makin menjadi.
            “Iya!! Aku suka sama kamu!!!”
            Bersamaan dengan teriakan Sheila, ledakan kembang api terdengar. Tio dan Sheila spontan menoleh ke arah langit yang kini dipenuhi cahaya berwarna-warni. Terpukau, mereka berdua diam untuk beberapa saat. Tahun 2013 sudah dilewati dan kembang api tersebut menandai dimulainya tahun yang baru.
            Tidak berapa lama, Mei dan Fahri bergabung dengan mereka. Dua orang itu mengiformasikan bahwa jalanan sudah padat, sehingga mereka harus kembali ke parkiran atau mereka semua tidak akan tiba di sana tepat waktu. Panik, Sheila dan Tio mulai mengikuti Mei dan Fahri keluar dari area Benteng Vredenburg.
            “Ngomong-ngomong, boleh diulangi yang tadi? Suara kembang apinya ganggu.”, kata Tio.
            Mendengar hal itu, Sheila hanya tersenyum jahil dan menjulurkan lidahnya.

Rabu, 10 Oktober 2012

Payphone Ft. Wiz Khalifa (Maroon 5)

[Hook]
I’m at a payphone trying to call home
All of my change, I spent on you
Where have the times gone
Baby, it’s all wrong
Where are the plans we made for two?

[Verse 1: Adam Levine]
Yeah, I, I know it’s hard to remember
The people we used to be
It’s even harder to picture
That you’re not here next to me
You say it’s too late to make it
But is it too late to try?
And in that time that you wasted
All of our bridges burnt down

[Bridge]
I’ve wasted my nights
You turned out the lights
Now I’m paralyzed
Still stuck in that time when we called it love
But even the sun sets in paradise

[Hook]
I’m at a payphone trying to call home
All of my change, I spent on you
Where have the times gone?
Baby, it’s all wrong
Where are the plans we made for two?
If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
And all those fairytales are full of shit
One more fucking love song I’ll be sick

[Verse 2: Adam Levine]
You turned your back on tomorrow
Cause you forgot yesterday
I gave you my love to borrow
But just gave it away
You can’t expect me to be fine
I don’t expect you to care
I know I said it before
But all of our bridges burnt down

[Bridge]
I’ve wasted my nights
You turned out the lights
Now I’m paralyzed
Still stuck in that time when we called it love
But even the sun sets in paradise

[Hook]
I’m at a payphone trying to call home
All of my change, I spent on you
Where have the times gone
Baby, it’s all wrong
Where are the plans we made for two?
If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
And all those fairytales are full of shit
One more fucking love song I’ll be sick
Now I’m at a payphone…

[Verse 3: Wiz Khalifa]
Man, fuck that shit
I’ll be out spending all this money
While you sitting around wondering
Why it wasn’t you who came up from nothing
Made it from the botton
Now when you see me I’m stuntin’
And all cars start with the push of a button
Telling me the changed since I blew up or whatever you call it
Switched the number to my phone so you never could call it
Don’t need my name on my shirt, you can tell that I’m ballin’
Swish, what a shame, coulda got picked
Had a really good game but you missed your last shot
So you talk about who you see at the top
Or what you could’ve saw
But sad to say it’s over for it
Phantom pull up, valet open doors
Wiz like go away, got what you was looking for
Now it’s me who they they want
So you can go and take that little piece of shit with you

[Hook]
I’m at a payphone trying to call home
All of my change, I spent on you
Where have the times gone
Baby, it’s all wrong, where are the plans we made for two
If happy ever after did exist
I would still be holding you like this
And all those fairytales are full of shit
One more fucking love song I’ll be sick
Now I’m at a payphone…

Jumat, 07 Oktober 2011

What Do You Want from Me (Adam Lambert)

Hey, slow it down, whataya want from me?
Whataya want from me?
Yeah, I'm afraid, whataya want from me?
Whataya want from me?

There might have been a time when I would give myself away
Oh, once upon a time, I didn't give a damn
But now, here we are, so whataya want from me?
Whataya want from me?

Just don't give up, I am workin' it out
Please don't give in, I won't let you down
It messed me up, need a second to breathe
Just keep coming around

Hey, whataya want from me?
Whataya want from me?
Whataya want from me?

Yeah, it's plain to see
That baby you're beautiful and it's nothing wrong with you
It's me, I'm a freak, yeah
But thanks for lovin' me 'cause you're doing it perfectly

Yeah, there might have been a time
When I would let you step away
I wouldn't even try
But I think you could save my life

Just don't give up, I am workin' it out
Please don't give in, I won't let you down
It messed me up, need a second to breathe
Just keep coming around

Hey, whataya want from me?
Whataya want from me?
Whataya want from me?
Whataya want from me?
Whataya want from me?

Just don't give up on me
I won't let you down
No, I won't let you down

And so just don't give up, I'm workin' it out
Please don't give in, I won't let you down
It messed me up, need a second to breathe
Just keep coming around

Hey, whataya want from me?

Just don't give up, I am workin' it out
Please don't give in, I won't let you down
It messed me up, need a second to breathe
Just keep coming around

Hey, whataya want from me?
Whataya want from me?
Whataya want from me?
Whataya want from me?
Whataya want from me?
Whataya want from me?

Memikirkan kembali apa arti kata 'CINTA'...


Tak ada yang tahu, apa definisi sebenarnya dari kata tersebut.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, CINTA berarti 'ingin sekali', 'rindu', 'risau', 'kasih sekali', 'sayang sekali'.

Menurut orang-orang yang sedang kasmaran, CINTA berarti 'kasih sayang yang tiada tara dan tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata'.

Menurut orang-orang yang patah hati, CINTA berarti 'sakit yang tak pernah habis'.


Menurut orang-orang yang tak pernah serius, CINTA hanyalah permainan.

Menurut orang-orang yang sunggguh-sungguh mencari teman hidupnya, CINTA adalah segalanya.

Menurut orang-orang yang mudah curiga, CINTA tidak dapat dipercaya.

Menurut orang-orang yang setia, CINTA berarti kepercayaan.

dan masih banyak lagi definisi CINTA yang tidak kita ketahui.


Hanya satu kata, tapi memiliki begitu banyak arti yang tidak dapat disebutkan satu persatu. setiap orang di dunia mungkin memiliki lebih dari satu arti untuk CINTA.

Tapi yang ku tahu, ketika kita mencintai seseorang, kita seakan rela memberikan apapun untuknya, bahkan hidup kita.

Sekuat itukah satu kata CINTA?
Semenarik itukah kedengarannya?
Sepahit itukah kenyataannya?

Seperti itukah CINTA?